Never Enough
"Apa kamu ga pernah punya waktu buat aku?"
Aku yang tengah berpeluh untuk menggali harapan pada kita di masa yang akan datang, agar kita tak hidup dalam kekurangan, hanya bisa menahan diri untuk tidak terbawa amarah.
Meski kini aku tak punya waktu banyak untukmu, aku pastikan di hari nanti kau akan punya segalanya, bahkan tanpa kau harus meminta.
"Bersabarlah. Maukah kau?"
Tak ingin lelah rasanya aku meminta kau untuk menunggu dan bersabar. Ketahuilah, aku pun harus memendam harap tentang kita. Tentang satu hari nanti yang mendung, aku ingin kau tak perlu berkabung. Karena, aku akan menjadi hujan kesukaanmu, yang rela jatuh berkali-kali untukmu.
Lalu, setelah itu aku akan mengajakmu ke suatu kedai kopi di tepi kota. Lengkap dengan suasana hangat dan aroma yang menenangkan. Kemudian, aku akan menjadi kopi kesukaanmu, meski pahit ingin selalu kau teguk.
Hingga akhirnya kau kelelahan karena terlalu lelah mencinta seharian, aku akan menjadi rumah kesukaanmu, yang membuatmu tak sabar untuk cepat pulang. Pokoknya aku akan menjadi semua kesukaanmu, agar kau bisa menikmati pikiranmu yang berisi aku.
Namun, suatu hari di tepi sunyi, kau tiba-tiba melantunkan harapan egois dalam diam yang kau panjatkan. Menyembunyikan semua ketidakpuasanmu akanku.
Hingga akhirnya aku hanya menjadi kenyataan yang paling kau benci karena aku yang tak pernah punya waktu banyak untukmu, karena kau yang tak mau bersabar lebih lama.
Komentar
Posting Komentar