Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2022

JURNALISME SONGFICT: DEPENDENT

Gambar
Disaat orang-orang membahas lupa tentang kenangan yang tak sekarib lagi dikepalanya, aku terdiam; agar dusta tak berbicara dibalik aku yang masih akrab mengenang kita. Padahal memang tak ada detik yang ku khianati, karena pada setiap detaknya jadi rindu jika panjang namamu ku sebutkan. Lalu aku bertanya; sekuat apa aku menahan godaan untuk tidak mengabarimu dan berjanji pada diriku sendiri bahwa aku sudah selesai dengan kita, sangat naif. Punya rela dari lara tanpa ada hasrat meminta kembali sebagai bentuk adil. Ia bukan perempuan yang gemar mengumpulkan banyak wajah, bukan pula mengharap pujian sebagai bentuk perhiasan, Mariah Beuckman; permata yang pernah tuhan berikan padaku, namun lesat, sebab genggamanku terlalu kuat hingga ia 'tak lagi mampu kumiliki. Aku sedang tidak membohongi siapapun. Sebab tanpa sadar kadang 'ku masih menunggu dering dengan namamu, berharap kau mengirim beberapa pesan singkat untukku seperti yang biasa kau lakukan dulu.  "Berapa kali aku harus m...

Rumahku masih bernama kamu.

Aku pernah membiarkan seseorang masuk. Aku kira ia hendak menetap, namun ternyata ia hanya beristirahat. Dari banyaknya orang yang ingin duduk, ia yang aku persilakan masuk.. Dari banyaknya orang yang ingin menetap, ia yang dengan mudahnya berdiri lalu melangkah pergi. Iya, aku pernah. Mungkin baginya rumahku tidak nyaman. Tapi bagiku, ia yang membuatku nyaman diam di rumah. Jujur aku sulit untuk membiarkan seseorang masuk ke dalam rumahku, tapi kamu berhasil singgah dan menetap terlalu lama di ruang tamuku. Bagaimana mungkin aku sanggup mengusirmu? Hadirmu terlalu singkat, sehingga saat kamu memilih pergi, aku belum siap berteman dengan sepi.  Jadi, jika semisal nanti kamu ingin pulang, pulang saja ya? Karena kamu dan semua tentangmu masih tersimpan rapih pada tiap-tiap sudut rumah ini. 

SONGFICT: Aku, kamu, rindu, dan permainan menunggu.

  Waktu terus berjalan, meninggalkan sebuah rasa. Begitu berarti, mengetahui sesak sebab rindu tak tersampaikan. Aku khawatir; cintaku kepadamu bukan lagi sekedar perkataan. Sekedar hanya; bercengkrama, bersua untuk memasang kata di depan sepasang mata kita. Aku, menemukanmu di dalam sebuah pemisalan. Dan dibalik senyumku yang rela, ada engkau sebagai kebohongan yang ku biarkan tetap ada. Hari itu, untuk pertama kalinya setelah perpisahan kita, aku kembali bercermin dari kejauhan pada kedua bola indah di matamu. Asing, sangat asing. Jantungku tetap berdegup kencang, ternyata perasaan ini tetap ada walaupun kita tak lagi saling menyapa.  Aku mencoba menghindar, namun tak ada tempat yang tak mengingatkanku padamu. Sebab, denganmu rindu selalu berbicara untuk melampaui sesuatu yang belum. "Hai?" sapamu kala itu. Adalah sedikit kata yang hampir tidak. Meski diamku kali itu menjadi bahasa yang seolah akan menikam mati, namun peluklah aku dengan belati dan tetaplah tinggal seperti ...