LEMBAR #1 - Buku Usang

Layaknya aku adalah bentala yang menaruh hati pada sang baskara; kita terlalu jauh untuk sekedar menautkan renjana. Aku adalah paragraf yang tak pernah ingin kau baca dalam buku usangmu, dan engkau adalah buku kesukaanku yang tak pernah ingin ku habisi akhirnya. 

Pada bait aksara yang kutemui, ia bertanya, "Mengapa engkau sangat menaruh damba pada ia yang tak pernah berbalik padamu?" 

Aku terdiam sejenak, dalam ragu yang diselimuti pilu, dan pada setiap teka teki silang tentang pertanyaan yang tak pernah ku temui apa jawabnya, aku tercekat bisu.

Benar! kau, boleh sebut aku bodoh. Sebab, aku adalah sang musafir cinta yang buta akan fakta. Bahkan setelah kenyataan menghampiriku dan berbisik; memberitahu bahwa tiap-tiap sikap manis yang kau berikan selama ini adalah topeng untuk menutupi rasa bencimu terhadapku, dengan abai- kau membiarkanku tetap ada untuk mengisi hari-harimu, untuk menemani malammu yang sepi, dan untuk sekedar memberikan apa yang tak pernah kau dapatkan dari dirinya. Terkadang, aku bertanya pada cermin, serendah itukah ketulusanku selama ini?

•••

Dari sekian banyak kerikil, dari sekian banyak anak tangga, dari sekian banyak persimpangan, dari sekian banyaknya hal-hal ini itu di masa lalu, pada akhirnya aku sampai kepadamu kemarin. Aku kira aku akan berhenti cukup lama, namun ternyata tidak. Aku kira kau lebih dari sekedar tempat peristirahatan, namun ternyata kau adalah persimpangan yang lainnya.

Namun aku akan jujur. Dari sekian banyak masa lalu yang telah aku lalui, entah mengapa kau yang paling melekat. Rasa-rasanya setiap aku menemui orang baru dan menunjukkannya kepada temanku, mereka akan berkata bahwa orang baru itu mirip dirimu.

Awalnya aku merasa ini hanya kebetulan, hingga pada akhirnya tiga temanku mengatakan bahwa setiap persimpangan yang aku lalui, semuanya selalu mirip dirimu. Astaga! Jadi, selama ini di alam bawah sadarku, aku mencari penggantimu, namun sebenarnya aku mencari kau dalam diri orang lain? Sungguh memalukan. Aku tak pernah merasa sebegitu bodohnya seperti ini. Kau adalah orang pertama yang mampu membuatku seperti ini.

Tapi tenang saja, aku pun pada awalnya tak percaya. Mungkin ini hanya khayalku saja. Namun, semakin aku mencoba untuk mengelak dari rasa yang aku buat sendiri ini, tanpa sadar aku semakin mencari kau.

Iya, kau.

Aku pandai menasihati orang lain. Mencaci-maki setiap mereka yang bodoh karena bertahan setelah ditinggal pergi. Namun, sekarang aku adalah orang bodoh itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ruang Juang

Never Enough