Pusat Rotasi
Dulu aku seperti serpihan langit yang tak punya orbit. Melayangkan diriku tak tentu arah, mengelilingi semesta yang berisi banyak harap. Tak jarang aku berbenturan dengan banyak sepi dan sunyi. Hampir hancur aku di lautan semesta. Kemudian, debarmu membuatku tertarik mengelilinginya. Kau menyeretku dengan lembut dan tidak memaksa. Kau membiarkan kita berjarak, agar aku bisa menikmatimu dengan sempurna. Hingga tak terasa, kau menjadi pusat rotasi semua kebahagiaanku. Jarak di antara kita, tak ayal hanya sebuah penyeimbang. Kita terhubung oleh makna yang tak kasat mata. Kita terhubung oleh rasa yang tak mampu berkata. Kita menjadi sebuah kesatuan semesta, dengan semua percika rasa yang berpendar.