Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2023

Pusat Rotasi

Dulu aku seperti serpihan langit yang tak punya orbit. Melayangkan diriku tak tentu arah, mengelilingi semesta yang berisi banyak harap. Tak jarang aku berbenturan dengan banyak sepi dan sunyi. Hampir hancur aku di lautan semesta. Kemudian, debarmu membuatku tertarik mengelilinginya. Kau menyeretku dengan lembut dan tidak memaksa. Kau membiarkan kita berjarak, agar aku bisa menikmatimu dengan sempurna. Hingga tak terasa, kau menjadi pusat rotasi semua kebahagiaanku. Jarak di antara kita, tak ayal hanya sebuah penyeimbang. Kita terhubung oleh makna yang tak kasat mata. Kita terhubung oleh rasa yang tak mampu berkata. Kita menjadi sebuah kesatuan semesta, dengan semua percika rasa yang berpendar.

Ruang Juang

Dalam sebuah usaha menyeimbangkan, banyak hal patut dipertaruhkan. Namun, nilai pertaruhan itu sendiri bukanlah sebuah perjudian, melainkan sebuah pemberian yang tidak perlu diperhitungkan. Kau tahu bukan, aku pernah berjuang hanya untuk merasa baik-baik saja, bahkan untuk percaya pada orang lain yang berkata bahwa semua akan baik pada waktunya saja aku perlu ribuan hari untuk meyakininya. Dan kini, setelah hari itu datang, membawa dirimu dengan semua kejutannya yang tidak akan pernah berakhir, ada perjuangan lain ternyata yang menunggu. Mem- pertahanmu di sini. Hal yang membingungkan adalah, aku dapat membuatmu bertahan, atau kau yang harus berusaha bertahan, atau mungkin sebaliknya. Apa kita akan sama-sama bertahan untuk berada di sisi satu sama lain, atau bertahan pada sisi kita masing-masing mempertahankan ego.

Kadang, pada bahagia dalam kamu.

Ini hanyalah perihal terkadang, bukan selalu atau melulu. Sebab, semenjak engkau menunjukkan bahwa aku hanyalah manusia lalu lalang dalam hidupmu, dan kita bukanlah suatu hal yang penuh. Sebab disaat aku dengan bangganya mengatakan pada teman-temanku bahwa kamu dulu kepunyaanku, dan bahwa aku pernah dicintai dan mencintai seseorang dengan sangat untuk pertamakalinya. Kamu, berkata sebaliknya. Dan dari sana, Sejujurnya... Kadang, aku merasa takut ketika kamu sudah bahagia. Aku seakan dihantui rasa ingin bertanya, apakah ketika bersamaku dulu, kamu tidak merasa bahagia? Kadang, aku merasa khawatir ketika kamu sudah bahagia. Rasa-rasanya hatiku masih sering bertanya, apakah di balik senyum itu, kamu masih sering terluka? Kadang, aku merasa kecewa ketika kamu sudah bahagia. Kecewa pada diriku sendiri yang selalu bertanya, apakah sekarang kamu telah menemukan apa yang kamu cari dalam dirinya? Yang tak sedikit pun mampu aku punya? Kadang, aku merasa sedih ketika kamu sudah bahagia. Pikiranku...

Untuk Lelaki Setelahku.

  Kepada semua laki-laki yang aku berani bersumpah cintanya tak akan pernah bisa lebih besar ketimbang cintaku kepadanya, Aku titipkan wanitaku yang kini tengah menjadi wanitamu. Aku mengenalnya jauh sebelum kau bisa merasa bahagia ketika pertama kali melihat tingkah lakunya yang menyenangkan. Aku mengenalnya bukan baru kemarin sore. Aku mengenalnya ketika ia masih bukan siapa-siapa, ketika ia tak lebih dari sekadar caci-maki setiap orang yang mendengar berita miring tentangnya. Aku tak bisa bicara banyak-banyak, karena mungkin kini kau sudah jauh lebih mengenalnya ketimbang aku. Bagaimana? Berdegup kencangkah hatimu ketika melihat namanya muncul pada kolom notifikasimu? Ya, aku juga dulu pernah merasakan hal yang sama. Aku pernah menjadi orang paling bahagia di dunia ketika bersamanya, suatu rasa yang tak pernah bisa aku temukan pada makhluk tuhan yang lainnya.  Aku pernah tersenyum gelagapan hanya karena candaan-candaan konyol yang ia berikan, tentang ia yang sangat mengidol...

Aku Senang Kamu Bahagia.

Aku dengar, kamu telah menjadi kepunyaan oranglain sekarang. Orang yang sangat mendamba dan mengagumi-mu, orang yang dengan sukarela memberikan seluruh dunianya untuk kamu, dan tentunya orang yang jauh lebih baik dari si aku; masalalumu. Mendengar itu, aku senang, aku turut bahagia. Semoga tepat, semoga memang dialah orangnya.  Percayalah, aku sedang tidak berdusta...  Mendengar kamu kembali tersenyum dan membuka lembar baru tanpa aku, aku cukup bahagia dibuatnya. Sebab, kamu memang pantas untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Sebab harapku setelah perpisahan kita kali itu adalah hanya dua, kamu yang ditinggal oleh luka dan kamu yang terus tersenyum bahagia. .... Selamat berbahagia masa laluku. Selamat melangkah dan mulai bisa kembali tersenyum dengan perasaan yang baru. Aku tak tahu apakah pilihan barumu itu lebih sempurna daripada aku yang dulu atau tidak. Namun yang jelas, aku sangat berharap kau akan bahagia. Aku pernah berdoa untuk memintamu bahagia. Walau aku lupa meminta ...

LEMBAR #1 - Buku Usang

Layaknya aku adalah bentala yang menaruh hati pada sang baskara; kita terlalu jauh untuk sekedar menautkan renjana. Aku adalah paragraf yang tak pernah ingin kau baca dalam buku usangmu, dan engkau adalah buku kesukaanku yang tak pernah ingin ku habisi akhirnya.  Pada bait aksara yang kutemui, ia bertanya, "Mengapa engkau sangat menaruh damba pada ia yang tak pernah berbalik padamu?"  Aku terdiam sejenak, dalam ragu yang diselimuti pilu, dan pada setiap teka teki silang tentang pertanyaan yang tak pernah ku temui apa jawabnya, aku tercekat bisu. Benar! kau, boleh sebut aku bodoh. Sebab, aku adalah sang musafir cinta yang buta akan fakta. Bahkan setelah kenyataan menghampiriku dan berbisik; memberitahu bahwa tiap-tiap sikap manis yang kau berikan selama ini adalah topeng untuk menutupi rasa bencimu terhadapku, dengan abai- kau membiarkanku tetap ada untuk mengisi hari-harimu, untuk menemani malammu yang sepi, dan untuk sekedar memberikan apa yang tak pernah kau dapatkan dari ...