SONGFICT: Aku, kamu, rindu, dan permainan menunggu.
Waktu terus berjalan, meninggalkan sebuah rasa. Begitu berarti, mengetahui sesak sebab rindu tak tersampaikan. Aku khawatir; cintaku kepadamu bukan lagi sekedar perkataan.
Sekedar hanya; bercengkrama, bersua untuk memasang kata di depan sepasang mata kita. Aku, menemukanmu di dalam sebuah pemisalan. Dan dibalik senyumku yang rela, ada engkau sebagai kebohongan yang ku biarkan tetap ada.
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah perpisahan kita, aku kembali bercermin dari kejauhan pada kedua bola indah di matamu. Asing, sangat asing. Jantungku tetap berdegup kencang, ternyata perasaan ini tetap ada walaupun kita tak lagi saling menyapa.
Aku mencoba menghindar, namun tak ada tempat yang tak mengingatkanku padamu. Sebab, denganmu rindu selalu berbicara untuk melampaui sesuatu yang belum.
"Hai?" sapamu kala itu. Adalah sedikit kata yang hampir tidak. Meski diamku kali itu menjadi bahasa yang seolah akan menikam mati, namun peluklah aku dengan belati dan tetaplah tinggal seperti saat 'kau memintaku untuk kembali pulang.
"Setelah keterasingan ini, apa yang membuatmu kembali di dekatku?" sembari memejamkan mata, kau bertanya. Ketahuilah, aku sering menemukan patahan patahan diriku pada setiap keping yang kau tinggalkan. Menolak untuk ikut pergi, karena itu sekarang, aku sedang sekarat; menunggu untuk dipetik lalu dikembalikan.
"Jika memang separuh engkau lahir sebagai aku, mendarahlah semestinya denganku tanpa punya ragu. Selama apapun waktu berlalu, aku akan menunggu," jawabku.
𝐏𝐄𝐑𝐌𝐀𝐈𝐍𝐀𝐍 𝐌𝐄𝐍𝐔𝐍𝐆𝐆𝐔 : For Revenge.
Komentar
Posting Komentar