JURNALISME SONGFICT: DEPENDENT




Disaat orang-orang membahas lupa tentang kenangan yang tak sekarib lagi dikepalanya, aku terdiam; agar dusta tak berbicara dibalik aku yang masih akrab mengenang kita. Padahal memang tak ada detik yang ku khianati, karena pada setiap detaknya jadi rindu jika panjang namamu ku sebutkan. Lalu aku bertanya; sekuat apa aku menahan godaan untuk tidak mengabarimu dan berjanji pada diriku sendiri bahwa aku sudah selesai dengan kita, sangat naif.

Punya rela dari lara tanpa ada hasrat meminta kembali sebagai bentuk adil. Ia bukan perempuan yang gemar mengumpulkan banyak wajah, bukan pula mengharap pujian sebagai bentuk perhiasan, Mariah Beuckman; permata yang pernah tuhan berikan padaku, namun lesat, sebab genggamanku terlalu kuat hingga ia 'tak lagi mampu kumiliki.

Aku sedang tidak membohongi siapapun. Sebab tanpa sadar kadang 'ku masih menunggu dering dengan namamu, berharap kau mengirim beberapa pesan singkat untukku seperti yang biasa kau lakukan dulu. 

"Berapa kali aku harus memberi tahumu bahwa kita benar-benar sudah selesai?" Hal yang terus menerus menghantui kepalaku, membuat batinku hampir gila karenanya adalah pesan terakhirmu kala itu. 

Aku merindukan salah, dan tidak ada yang bisa disalahkan dari berakhirnya kita kecuali diriku sendiri. Sebab itu, diatas ketiadan; berulang aku memanggil-Mu dimana tempatnya jauh pada puncak kesepian, memohon arah agar salah punya maaf.


• • •


Hujan selalu saja berhasil membawa kenangan hanyut bersamanya. Lalu pelan pelan mengalir ke kepala manusia. Namun hujan kali ini sangat berbeda, dimana tidak ada kita di dalamnya.

Pada ruang yang pernah kita sebut sebagai rumah, suaramu memecah keheningan, "Kesudahan yang kau inginkan dari yang kau sebut aku; hanyalah pergi, Weilian." Katakanlah Mariah, mengapa matamu enggan menoleh ke yang kau sebut aku. Sesekali lihat yang lesat dari mataku, mencabut denyut hati tanpa permisi, menarik kata dari puisi, agar makna kita tak lebur kehilangan arti. Karena memang tak bisa ku pungkiri bila nyatanya aku sangat membutuhkanmu, lebih dari sebelumnya. 

"Weilian Rugolfier... berhentilah umpamakan waktu sebagai nanti untuk mengharap kembali," pungkasmu sembari beranjak dari kursi.

Aku mengerti, pikirmu adalah meski pulang sebab kepergian ditunggukan, sekalipun kediaman engkau jadikan budak untuk menjilat kesedihan, menukar lupa dengan lara untuk mencari kata kita pada kenangan yang semestinya sudah adalah cara mengembalikan luka dengan cara paling gila.

"Tidak bisakah kau menetap untuk raga yang hampir mati ini, Mariah?" tanyaku pada tubuh yang kian menjauh dari pandangan, kau 'tak kunjung berbalik juga. "Sebagi teman..." 

Bila bahasa perasaan tak lagi mampu menembus ruang engkau, lalu adakah cara lain untuk aku melunakan keras dari ego yang hanya dimiliki isi kepalamu selain memelas, menunduk untuk diberi pertolongan?

"Meski kesempatan sulit digandakan, berilah aku percaya kedua dari kecewa yang kau rasakan agar kesalahan juga punya maaf, Mar." Maaf jika keserakahanku menjelma, tapi berikanlah meski sedikit kata 'Ya' padaku kali ini, tentang apa-apa yang tak penting tak apa. Sebab, harapku sudah bertumpuk, juga tak ingin terbentuk jadi kecewa.

Kau berbalik; memenuhi inginku, sayangnya bukan itu yang ku mau. Aku, melihat netramu kembali menatapku setelah sekian lama, namun bukan cinta di dalamnya, melainkan benci yang tak pernah di adili. 

"Tidak sadarkah 'kau, Weilian? kau meminta separuh; sedang aku selalu memberimu semuanya. Meski aku selalu punya lebih dari caramu memberi, aku tak memiliki benci dari tajam caramu menyakiti. Lalu sekarang, kesempatan mana lagi yang hendak kau dustai?"

Lagi dan lagi, sepotong ragu kuselipkan di atas kegetiran, pada takdir ku serahkan bagaimana ia akan bercakap. Kemudian dari sana, engkau pun tersenyum lalu mendekat ke arahku, hal yang terus menerus membuat jantungku berdegup kencang. 

"Aku turuti pintamu, tapi cukup sampai sini... kita hanya bisa kembali sebagai teman, ya?" katamu sembari menggenggam erat tanganku. Dan melalui senyuman manis yang engkau berikan, aku terkikis; teriris sembari menyesali tentang kebodohan kebodohan lalu yang ku sengaja. Namun dari sana, aku mengerti...

Genggaman terakhir darimu yang membuatku tersadar bahwa manusia memang bukan wadah menaruh tentang apa-apa yang berlebihan, apalagi perihal harap juga rasa yang tiba tanpa aba-aba, terbungkus satu di kepala, jadi semu lalu hilang dengan cara paling naif. 

Mungkin memang benar, kita lebih baik berakhir sebagai teman. Karena katanya, yang terlanjur lebur tak akan pernah bisa kembali utuh. Dan kita tidak pernah bisa memaksa apa-apa yang sudah menjadi kehendak sang pencipta. Terimakasih karena sudah bersedia menjadi bagian dari cerita singkat yang dirangkai sedemikian rupa, sampai bertemu diketidak sengajaan berikutnya.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

LEMBAR #1 - Buku Usang

Ruang Juang

Never Enough