Rumahku masih bernama kamu.

Aku pernah membiarkan seseorang masuk. Aku kira ia hendak menetap, namun ternyata ia hanya beristirahat.

Dari banyaknya orang yang ingin duduk, ia yang aku persilakan masuk..

Dari banyaknya orang yang ingin menetap, ia yang dengan mudahnya berdiri lalu melangkah pergi.

Iya, aku pernah.

Mungkin baginya rumahku tidak nyaman. Tapi bagiku, ia yang membuatku nyaman diam di rumah.

Jujur aku sulit untuk membiarkan seseorang masuk ke dalam rumahku, tapi kamu berhasil singgah dan menetap terlalu lama di ruang tamuku. Bagaimana mungkin aku sanggup mengusirmu?

Hadirmu terlalu singkat, sehingga saat kamu memilih pergi, aku belum siap berteman dengan sepi. 

Jadi, jika semisal nanti kamu ingin pulang, pulang saja ya? Karena kamu dan semua tentangmu masih tersimpan rapih pada tiap-tiap sudut rumah ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LEMBAR #1 - Buku Usang

Ruang Juang

Never Enough