Kadang, pada bahagia dalam kamu.
Ini hanyalah perihal terkadang, bukan selalu atau melulu. Sebab, semenjak engkau menunjukkan bahwa aku hanyalah manusia lalu lalang dalam hidupmu, dan kita bukanlah suatu hal yang penuh. Sebab disaat aku dengan bangganya mengatakan pada teman-temanku bahwa kamu dulu kepunyaanku, dan bahwa aku pernah dicintai dan mencintai seseorang dengan sangat untuk pertamakalinya. Kamu, berkata sebaliknya. Dan dari sana,
Sejujurnya...
Kadang, aku merasa takut ketika kamu sudah bahagia. Aku seakan dihantui rasa ingin bertanya, apakah ketika bersamaku dulu, kamu tidak merasa bahagia?
Kadang, aku merasa khawatir ketika kamu sudah bahagia. Rasa-rasanya hatiku masih sering bertanya, apakah di balik senyum itu, kamu masih sering terluka?
Kadang, aku merasa kecewa ketika kamu sudah bahagia. Kecewa pada diriku sendiri yang selalu bertanya, apakah sekarang kamu telah menemukan apa yang kamu cari dalam dirinya? Yang tak sedikit pun mampu aku punya?
Kadang, aku merasa sedih ketika kamu sudah bahagia. Pikiranku selalu mengalun mempertanyakan, apakah doaku salah jika sekarang kamu bahagia walau bukan aku sebagai penyebabnya?
Kadang, aku merasa kalah ketika kamu sudah bahagia. Aku merasa mampu memiliki semua, tapi memilikimu yang aku cinta, ternyata aku tak bisa.
Kadang, aku merasa hancur ketika kamu sudah bahagia. Melihatmu yang membanggakannya, masa laluku meronta dan terus-menerus bertanya, apakah senyumanmu dulu tak pernah sebahagia sekarang?
Kadang, aku merasa bersalah ketika kamu bahagia. Seakan menemukannya, kau lepas dari kecewa.
Kadang, melihatmu bahagia bersamanya, aku dipenuhi rasa ingin bertanya. Apakah jika suatu hari orang- orang bertanya tentang kabarku, kamu akan mulai bercerita dengan bijaksana?
Seperti aku.
Yang selalu menceritakanmu.
Di sini.
Dengan bahagia.
Komentar
Posting Komentar